Wednesday, July 22, 2009

BAB VI - Surga Muslim

Banyak orang merasa heran mengapa umat Kristen dan umat Muslim mengklaim bahwa mereka sedang menuju ke surga namun jalan yang mereka tempuh untuk menuju surga tersebut sangat berbeda.

Suatu studi menyeluruh mengenai Alquran memperlihatkan bahwa surga umat Kristen berbeda dengan firdaus umat Muslim, walaupun demikian kedua termpat tersebut menjanjikan kebahagiaan dan kesukaan yang besar. Dalam bab ini, kami akan mencoba meneliti dan memperbandingkan antara surga umat Muslim dan surga umat Kristen dengan tujuan untuk membantu kita dalam mengidentifikasikan Allah, “Tuhan” yang bertahta di dalam surga umat Muslim.

Jalan Masuk Ke Surga
Alquran menyatakan, “ … Dia (Allah) memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas AmpunanNya” (Surat 53:31-32). Hal tersebut sama artinya dengan menyatakan bahwa seorang berdosa masih bisa masuk ke surga umat Muslim asal saja dosa-dosanya itu tidak terlalu besar (kecil).

Hal tersebut jelas berbeda dengan surga dimana Elohim bertahta, juga berbeda dengan tempat kediaman Yesus manakala Yesus memerintah kembali. Satu-satunya cara melihat Tuhan adalah dengan hidup dalam kekudusan yang sempurna, “ …. Dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Alkitab menyatakan: “Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebut Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya” (Yesaya 35:8; Wahyu 21:27).

Elohim adalah Maha Kudus, dan Dialah Tuhan yang bertahta di dalam surga umat Kristen. Dialah Tuhan yang “mempunyai mata terlalu suci untuk melihat kejahatan dan yang tidak dapat memandang kelaliman (sekecil apapun kelaliman dan kejahatan tersebut)” (Habakuk 1:13). Walau demikian, Tuhan masih menawarkan anugerah keselamatan bagi setiap orang yang mau dan siap merendahkan diri untuk menerimanya.

Kehidupan Dalam Surga Umat Muslim
Alquran, yang dinyatakan oleh umat Muslim sebagai wahyu dari Allah, mengimplikasikan bahwa di dalam surga banyak kenikmatan seks dan perkawinan di tawarkan (Surat 56:10-38). Alquran berbicara mengenai para perawan (bidadari) sebagai berikut: “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (maksudnya sebelum adanya penghuni-penghuni surga yang sekarang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin” (Surat 55:56). Bidadari-bidadari tersebut adalah “isteri-isteri yang disucikan” (Surat 3:15) dan “yang bermata jelita” (Surat 37:48; Surat 44:51-54). Salah satu Hadis menyatakan: “Para penghuni firdaus yang paling rendah kedudukannya adalah mereka yang mempunyai delapan puluh ribu pelayan, tujuh puluh dua isteri … “ (Mishkat al Masabih, Sh. M. Ashraf, 1990, halaman 1204). Agar seseorang tidak menspiritualisasikan hal tersebut, Anas melaporkan pernyataan nabi Muhammad sebagai berikut: “Di dalam firdaus orang-orang mu’min akan diberi wewenang untuk melakukan persetubuhan “ (Ibid halaman 1200). Itulah sebabnya tidak mengherankan kalau Allah berkata kepada para pengikutnya bahwa mereka boleh memiliki banyak isteri di dunia. Kami tidak tahu apakah Allah menghendaki poligami semacam itu sebagai suatu sarana latihan untuk mencapai target besar di seberang sana.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, kami akan menyoroti kembali kehidupan nabi Muhammad secara singkat. Berbagai tradisi menyebutkan bahwa isteri Muhammad ada banyak, namun jumlah yang mereka sebutkan saling berbeda, ada yang menyebutkan 27, 29, 9,11, dan 13. Masalahnya adalah jumlah wanita itu sedemikian banyaknya, dan setiap kali bertambah terutama setelah pasukan Muhammad menang dalam pertempuran. Nantinya wanita tersebut mengenakan cadar. Sangat sulit bagi seorang penulis biografi untuk menyebutkan jumlah isteri Muhammad secara persis dan tidak dapat disangkal lagi kebenaran jumlah tersebut. Isteri-isteri Muhammad yang dapat kami sebutkan di sini adalah: Aesha (Aisha), Hafsa, Safia, Sawda, Omm Salama (Um Salama), Zaynab (Zainab), mariam, Omm Habiba (ummu Habiba), Maymuna, Raihana (Rayhana), Juwayriyya (Juwayriya), dan Safiyya (Safiya). Ali Dashti, ilmuwan dan negarawan Muslim menyebutkan beberapa nama isteri Muhammad yang lain di samping yang kami sebutkan di atas.

Alquran sendiri memberikan gambaran kepada kita mengenai ruang lingkup hak istimewa yang diperoleh para wanita yang memberi kenikmatan pada Muhammad dalam kehidupannya (maksudnya para isteri Muhammad). Dalam Surat 33:50, kita dapat membaca: “Hai nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara-saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu, yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada nabi kalau nabi mau mengawininya sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min”.

Walaupun banyak wanita dalam kehidupan Muhammad (walaupun isteri Muhammad banyak), dia tidak mempunyai anak laki-laki yang dapat bertahan hidup sampai usia dewasa. Oleh karena itu, Muhammad mengadopsi seorang anak laki-laki yang bernama Zaid ibn Harithah sebagai anaknya. Zaid menjadi dewasa dan dikaruniai seorang isteri yang cantik yang bernama Zaynab (Zainab) yang telah kami sebutkan namanya di atas. Namun patut disayangkan, nabi Muhammad kemudian tergoda oleh kecantikan Zainab. Berikut ini ceritanya:

Pada suatu hari, dalam kunjungan Muhammad ke rumah Zaid, Muhammad melihat Zainab tanpa mengenakan kerudungnya. Kecantikan Zainab ternyata sangat mempesona Muhammad dan membangkitkan nafsu birahinya, Karena itu dengan nafas terengah-engah, dia mengucapkan: “Terpujilah Allah, yang membangkitkan rasa birahi dalam hati manusia sebagaimana yang dikehendakiNya”. Tidak lama setelah kejadian tersebut, diselesaikanlah segala urusan yang berkaitan dengan perceraian Zaid dengan Zainab (maksudnya Zaid dan Zainab dinyatakan bercerai secara resmi) dan Muhammad segera menikahi Zainab yang telah dicerai oleh Zaid tersebut.

Mula-mula Muhammad takut pada apa kata orang nanti kalau mereka tahu bahwa dia telah membujuk rayu Zainab, maka dia berpura-pura (maksudnya bersikap munafik) bahwa dia tidak tertarik pada Zainab secara pribadi. Akibatnya Allah menegur Muhammad karena Muhammad takut kepada manusia (melebihi takutnya kepada Allah) dan juga telah bersikap munafik dalam hal hubungannya dengan Zainab, namun ironisnya Allah justru merestui perkawinan Muhammad dengan Zainab tersebut padahal secara jelas dinyatakan dalam salah satu ayat Alquran bahwa seorang suami harus mempertahankan isterinya dan tetap bertakwa kepada Allah. Dalam kasus ini justru Allah secara tersirat menyuruh seorang suami untuk menceraikan isterinya agar isterinya tersebut dapat dinikahi oleh Muhammad. Keadaan demikian dimanfaatkan oleh Muhammad untuk membenarkan tingkah lakunya terhadap Zainab dengan berdalih bahwa Muhammad sebetulnya tidak tertarik pada Zainab, namun Allah-lah yang memerintahkan Muhammad untuk mengawini Zainab, jadi Muhammad seolah-olah terpaksa harus melakukannya. Ayat Alquran tersebut di atas yang kami maksud adalah Surat 33:37 yang berbunyi sebagai berikut: “Dan ingatlah ketika kamu (Muhammad) berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya (yang dimaksud adalah Zaid) dan kamu (Muhammad) juga telah memberi nikmat kepadanya (Zaid): “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah, sedangkan kamu (Muhammad) menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu (Muhammad) takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu (Muhammad) takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami (Allah) kawinkan kamu (Muhammad) dengan Zainab (yaitu setelah habis iddahnya) (catatan: iddah dalam agama Islam berarti masa menanti yang lamanya 100 hari bagi perempuan yang ditalak/dicerai atau kematian suaminya di mana selama waktu itu dia belum boleh kawin lagi) supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri dari anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari pada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”.

Ya benar, drama tersebut tidak dianggap sebagai dosa. Beberapa penulis Islam moderen bahkan berusaha keras untuk berdalih demi membenarkan perkara tersebut. Mereka berdalih bahwa Zainab sudah keterlaluan dalam membanggakan kecantikannya sehingga suaminya (Zaid) sudah merasa tidak sanggup lagi untuk terus mempertahankannya. Seorang Rasul Kristus atau seorang Pastor pasti mengajarkan prinsip-prinsip kesalehan kepada jemaatnya dalam hal membina perkawinan yang bahagia bukannya malahan merebut isteri mereka (Efesus 5:22-23; Kolose 3:18-19). Beberapa pembela Islam menyatakan bahwa Zaid dengan senang hati menceraikan Zainab dan memberikannya kepada nabi atas kemauan sendiri dan dengan sepenuh hati yang ikhlas; dan bahwa menurut Alquran sendiri, Zaid sudah tidak bernafsu lagi untuk mempertahankan Zainab.

Kita semua tahu bahwa hal tersebut tidak benar sama sekali. Zaid tak mungkin bersedia dengan senang hati dan dengan sepenuh hati yang ikhlas menyerahkan kekasih hatinya yang baru saja dinikahinya kepada orang lain. Demikian juga Zainab tidak mungkin mau dengan senang hati meninggalkan suami yang sangat bersemangat, kuat, gagah dan muda hanya sekedar untuk menyerahkan dirinya kepada orang tua berusia 50 tahun lebih. Namun kedua pasangan yang harmonis tersebut tidak punya pilihan lain dalam hal ini. Zaid sangat menghormati Muhammad. Dia tidak ingin memperlihatkan kekecewaan dan kesedihan hatinya memikirkan kelakuan/perbuatan bapak angkatnya yaitu seorang yang sebelumnya telah bersikap sangat baik kepadanya sejak dia masih kecil. Apalagi, keinginan Muhammad untuk mempersunting Zainab, isteri Zaid, itu dinyatakan sebagai kehendak/perintah Allah sehingga Zaid tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Itulah yang membuat Zaid mendapat predikat seorang Muslim yang baik yaitu karena dia menyerah secara total kepada kehendak Allah. Nabi Muhammad telah memberi peringatan keras kepada siapapun yang berani menentang hal tersebut di atas sebagai berikut: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata” (Surat 33:36; baca juga Hadis Sahih al-Bukhari jilid 9, nomor 384).

Apakah Muhammad benar-benar mendapatkan suatu wahyu sebagaimana yang tercatat dalam Alquran? Umat Muslim berkata, “Ya”. Apakah wahyu tersebut dari Allah? Mereka juga berkata, “Ya”. Orang menjadi bertanya-tanya siapakah Allah ini yang telah memberi perintah dan berbuat seperti tersebut di atas, misalnya: “membangkitkan rasa birahi dalam hati manusia”.
Raja Daud dari Israel juga jatuh ke dalam pencobaan yang hampir sama dengan yang dialami Muhammad. Namun dia tidak pernah membenarkan tindakannya sendiri dan Yahweh tidak pernah mengampuninya (dalam kesalahan tersebut). Daud dijatuhi hukuman karena perbuatannya itu. Dalam suatu wahyu yang diterima Daud melalui nabi Natan, terungkap pernyataan Yahweh sebagai berikut: “Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku (Yahweh) dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu” (2 samuel 12:10). Sampai hari ini pedang belum juga meninggalkan rumah Daud (maksudnya negara Israel). Di sini Yahweh ingin menyatakan bahwa dengan merebut isteri Uria, Daud telah memandang rendah DiriNya (Yahweh) yang telah mengaruniai msing-masing laki-laki dengan seorang isteri sebagai jodohnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu kami tidak percaya bahwa Yahwehlah yang menyuruh Muhammad mengambil isteri orang lain, maksudnya isteri anak angkatnya sendiri.

Di samping empat isteri yang boleh dimiliki oleh orang-orang Muslim, Allah juga menyatakan dalam Surat 4:24-25 bahwa mereka bebas mengambil budak-budak wanita yang mereka miliki untuk dijadikan isteri. Jika dia seorang pengembara, seorang turis atau seorang peziarah, seorang Muslim yang taat boleh memiliki beberapa ‘isteri’ lain yang bersifat sementara di daerah-daerah strategis di mana dia biasanya menginap. “Perkawinan” semacam ini biasanya disebut mut’a atau “Hawa Nafsu” (mut’a berarti ‘hawa nafsu’). Mut’a bisa berlangsung hanya satu jam atau selama sang nafsu masih mengusai orang yang terlibat di dalamnya. Iran dianggap sebagai sebuah contoh dari kerajan Allah yang ada di dunia, dan menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang wanita Iran yang bernama Shahla Haeri, mut’a berkembang di Iran saat ini.1 Sejarahwan yang bernama Burkhardt menyatakan bahwa mut’a sudah lazim dilakukan di tanah Arab sebelum Muhammad mulai menyebarkan ajaran agamanya.. kebiasaan yang lazim dilakukan pada waktu itu adalah seorang kepala rumah tangga menyerahkan salah seorang wanita dari keluarganya untuk melayani/menemani tamunya selama tamunya itu bermalam di rumahnya (termasuk melayani hubungan tubuh). ‘Hubungan tubuh’ semacam ini bisa berakhir pada keesokan harinya atau selama tamu tersebut tinggal di sana. Kalau Allah menyetujui praktek-praktek semacam itu, sekalipun sebagian umat Muslim yang mempraktekkan hal tersebut menyatakan bahwa mereka telah membuat beberapa amandemen mengenai ‘Hukum Nafsu’ seperti yang tertulis di atas, kamus-kamus kita harus mendefinisi ulang istilah perzinahan dan persundalan.

Para wartawan asing yang mengeluhkan terjadinya protitusi di Mekah setiap tahun selama bulan Haji disebabkan Karena mereka tidak memahami bahwa sesungguhnya hal tersebut terjadi karena mendapat bekingan (dukungan) dari Allah. Bagi umat Kristen, semua perbuatan tersebut di atas (perzinahan dan persundalan) adalah perbuatan yang melanggar perintah Tuhan (Elohim) yang berbunyi: “Jangan kamu berzinah”. Bagi umat Muslim perintah Elohim tersebut tidak bisa dipahami (kabur pengertiannya).

Dan apabila anda adalah seorang wanita muda, yang terikat dalam perkawinan dengan seorang Muslim, camkanlah hal ini baik-baik. Sebagai suami anda, dia mendapat izin dari Allah dalam Surat 4:34 untuk memukul anda setiap kali anda bertindak salah (misalnya meninggalkan rumah tanpa izin dari suami anda). Sebagai salah satu alternatif, dia mungkin akan menolak menggauli anda untuk jangka waktu yang lama sebagai hukuman buat anda, karena dia akan mengalihkan perhatiannya kepada isteri-isteri yang lain baik yang tinggal satu rumah dengan anda maupun yang di luar rumah. Bandingkan hal tersebut dengan perintah Elohim dalam Alkitab mengenai hubungan suami-isteri (bacalah Efesus 5:25-33; Kolose 3:19; dan 1 Korintus 7:2-5).

Dengan latar belakang kehidupan perkawinan Islam seperti ini, tidaklah mengherankan kalau surga umat Muslim penuh dengan ‘skandal-skandal yang melibatkan kaum wanita’ seperti yang terungkap di atas. Selain kenikmatan bulan madu yang tidak terbatas, di dalam firdaus Muhammad juga mengalir “sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya” (Surat 47:15; Surat 76:5,21; Surat 83:25-29). Dalam Surat 5:90-91 dan Surat 2:219 dinyatakan bahwa meminum khamar (arak) adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan (setan) dan oleh karenanya umat Muslim harus menjauhi perbuatan tersebut (dilarang melakukan perbuatan itu). Beberapa orang menganggap bahwa ayat-ayat tersebut di atas saling bertentangan. Namun kami tidak menganggapnya demikian. Pantangan di sini mungkin saja semata-mata berarti bahwa umat Muslim mempersiapkan kerongkongan-kerongkongan mereka untuk menyambut kenikmatan Besar di Seberang sana di kemudian hari. Sesungguhnya, salah satu Hadis menyatakan, “Barangsiapa yang meminum khamar di dunia ini, yang tidak mau bertobat dan yang kemudian mati karena ketagihan khamar tersebut tidak akan menikmati lagi khamar yang disediakan dalam surga umat Muslim di kemudian hari” (Mishkat al Masabih, Sh. M. Ashraf, Lahore 1990, halaman 776).

Dengan segala macam minuman yang memabukkan dan skandal-skandal wanita di dalam surga Muslim tersebut, para peneliti bertanya-tanya apakah Allah tidak akan menghadapi masalah dalam menarik minat dan perhatian umat Muslim agar mereka menyembah/beribadah kepada Dia di dalam firdaus. Seseorang bertanya, “Apakah pesta pora dan percabulan tersebut akan dinikmati tepat di depan hadirat Allah di firdaus? Faktanya adalah bahwa Allah yang bertahta di dalam surga umat Muslim tidak pernah hadir di sana. Dalam seluruh Alquran kami tidak pernah menemukan bukti mengenai kehadiran Allah di dalamnya. Tidak ada lagi penyembahan kepada Allah di surga Muslim. Umat Muslim telah cukup melakukan penyembahan/ibadah kepada Allah ketika mereka masih hidup di dunia.

Sekarang tibalah saatnya kita membicarakan tentang kesukariaan yang tidak terbatas itu. Apakah umat Muslim yang hidup di dunia untuk beribadah kepada Allah yang tidak mereka kenal tersebut akan masuk ke surga yang juga merupakan tempat yang tidak mereka ketahui dan yang bahkan Allah dan KemuliaanNya-pun tidak Nampak di sana? (interpretasi penerjemah: jangan-jangan surga yang mengiming-imingi kesukariaan yang tidak terbatas itu sebenarnya tidak ada).

Sudah pasti (menurut Alkitab), manusia akan dapat melihat Tuhan (Elohim), Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Tuhan (Elohim)” (Matius 5:8). Kalau seseorang meninggal dalam dosa-dosanya tanpa mendapat pengampunan pada saat dia masih di dunia sebelum dia meninggal, tidak peduli agama apapun yang dianutnya selama di dunia, dia tidak akan masuk surga, tetapi akan dimasukkan ke neraka.

Yesus mengatakan kepada wanita yang sangat religius, “kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa yahudi” (Yohanes 4:22). Kepada orang-orang yang mempercayaiNya, Yesus berkata: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Tuhan (Elohim), percayalah juga kepadaKu. Di rumah bapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan kemana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ. Kata Tomas kepadaNya: Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke ditu? Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:1-6).

Jadi, surga umat Kristen adalah tempat di mana Yesus berada. Mereka akan melihat Yesus dengan Bapa Surgawi (Elohim) dalam kemuliaan. Alkitab menyatakan: “ … kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diriNya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam kemuliaanNya yang sebenarnya” (1 Yohanes 3:2; Wahyu 22: 3-4).

Isu mengenai ‘sungai-sungai dari khamar’ tersebut di atas sangat membingungkan beberapa ahli tafsir Muslim. Namun mereka adalah orang-orang yang cerdik. Sebagian dari mereka, dalam usaha mereka untuk menjelaskan mengenai hal tersebut di atas mengatakan bahwa khamar itu sesungguhnya tidak mengandung alcohol (karena mereka tidak dapat membayangkan bagaimana keberadaan surga itu). Salah seorang dari ahli tafsir Muslim tersebut lebih lanjut menjelaskan bahwa sekalipun sungai-sungai tesrebut beralkohol, hal itu justru menjadi salah satu alasan mengapa umat Muslim dilarang minum khamar selama mereka masih berada di dunia karena di surga Muslim ada berlimpah-limpah khamar yang dapat dinikmati.

Alkitab menyatakan: “Karena ingatlah ini baik-baik; tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Elohim. Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Elohim atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka” (Efesus 5:5-7).

“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu – seperti yang telah kubuat dahulu – bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Elohim” (Galatia 5:19-21).
Kesukacitaan dalam surga umat Kristen bukanlah soal minum-minum dan seks. “Sebab Kerajaan Elohim bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Roma 14:17).

Selain itu dalam surga umat Kristen juga akan ada ‘Perjamuan Kawin Anak Domba’ pada saat mana Yesus Kristus disertai oleh semua orang tebusanNya akan menikmati minuman air anggur kegirangan bersama-sama (Matius 26:26-29; baca juga Wahyu 19:6-10). Dalam pesta perkawinan di Kana, Galilea, Yesus mengubah air menjadi anggur yang biasanya disajikan/dihidangkan dalam pesta-pesta semacam itu. Pada Perjamuan Malam Terakhir bersama murid-muridNya, Yesus juga menyajikan air anggur seperti yang disajikan di Kana dengan dilengkapi roti (yang melambangkan darah dan tubuhNya). Air anggur semacam itu juga merupakan minuman untuk kesehatan bagi masyarakat yahudi pada umumnya (1 Timotius 5:23).

Jadi jelas bahwa di dalam surga di mana Yesus berada tidak ada ‘sungai-sungai khamar’. Yang ada di sana adalah ‘air kehidupan’ seperti yang dijanjikan oleh Yesus Kristus; dan seperti yang dilihat oleh Yohanes dalam wahyu-wahyu yang diterimanya dari Elohim yang disebutnya ‘mata air kehidupan’ (Wahyu 21:6-8; 22:1-2). Dan kami yakin bahwa ‘air hidup’ tidak berarti khamar atau minuman keras. Surga umat Kristen lebih ajaib daripada yang dapat kita bayangkan. Sementara khamar dan para wanita barangkali merupakan hal-hal yang paling menarik hati dan menyenangkan yang dapat dibayangkan oleh Muhammad, padahal pengalaman-pengalaman menjadi orang-orang tebusan dari Tuhan Yesus Kristus sungguh jauh melebihi mereka (maksudnya melebihi khamar dan para wanita tersebut di atas). Kesukacitaan surgawi berbeda dengan kesukacitaan duniawi, sehingga ungkapan-ungkapan perasaan manusia tidaklah cukup untuk mendeskripsikannya. Alkitab menyatakan, “Tetapi seperti ada tertulis: Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Elohim untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Korintus 2:9).

Yohanes hanya melihat sekilas dari visi yang diterimanya dan dia hanya dapat mendeskripsikan sejauh yang dapat dia lakukan sebagai manusia. Dalam Matius 22:30, Yesus berkata, “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga”. Pernyataan Yesus tersebut bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh Muhammad mengenai surga. Kami ingin bertanya apakah Allah yang mengilhami doktrin kepada Muhammad tersebut sesungguhnya adalah Elohim, yang menurut pernyataan Yesus, adalah sebagai Tuhan yang memberikan pesan-pesan kepada Yesus? (maksudnya: Apakah Allah dan Elohim itu sebetulnya merupakan satu maujud?). Yesus berkata, “Sebab Aku berkata-kata bukan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harua Aku katakana dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintahNya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakana, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh bapa kepadaKu” (Yohanes 12:49-50). Siapakah Bapa yang dimaksud Yesus tersebut? Alkitab memang menyebutkan mengenai ‘Perjamuan Kawin Anak Domba’ yang akan berlangsung di surga (Wahyu 19:6-10). Peristiwa itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan perilaku-perilaku seks seperti halnya firdaus Muslim atau ‘Taman Peristirahatan (Taman Kenikmatan)’. Perkawinan Anak Domba yang dimaksud bukanlah perkawinan antara individu dengan individu. Perkawinan tersebut yang dimaksud adalah persekutuan antara Yesus Kristus, Anak Domba Elohim dengan GerejaNya (JemaatNya).

Gereja (Jemaat) Tuhan (Elohim) yang merupakan perkumpulan orang-orang terpilih yang ‘dipanggil keluar’ dari dunia untuk memerintah bersama Tuhan, seringkali dirujuk oleh Alkitab sebagai ‘Mempelai Wanita’. Metafora mengenai Mempelai Laki-laki dan Mempelai Wanita digunakan untuk memperlihatkan keagungan Gereja Kristus, kasih Kristus untuk ‘GerejaNya’ (orang-orang pilihanNya), bagaimana Kristus mengasihi ‘dia’, dan persiapan-persiapan yang dilakukan Kristus untuk menyambut ‘dia’ masuk ke dalam kemuliaan di ‘rumah BapaNya’ (Efesus 5:25-32). Sementara itu Allah berkata, “Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli” (Surat 44:54; Surat 52:20; Surat 56:20, A.J. Arberry).

Kepada mereka yang mempercayai perkawinan-perkawinan surgawi seperti yang dimaksud dalam Alquran, Yesus berkata, “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Elohim! Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga” (Matius 22:29-30; Markus 12:24-25).
Para sejarahwan Muslim menginformasikan bahwa kehidupan bangsa Arab pada zaman pra-Islam merupakan kehidupan dengan tiga pola yaitu ‘khamar, wanita, dan perang’.2 Itulah sebabnya tidak mengherankan kalau agama baru tersebut (agama Islam) lebih disukai daripada Injil Kristus. Menurut agama Islam mereka (umat Muslim) boleh melakukan peperangan untuk mendapatkan firdaus; mereka boleh mendapatkan banyak wanita terutama sebagai rampasan perang, dan bahkan mereka boleh berharap akan mendapatkan wanita dan khamar yang lebih banyak lagi pada waktu mereka meninggal. Siapakah yang tidak tergiur memilih semua hal tersebut di atas?




No comments:

Post a Comment